Sinopsis Novel

  1. Judul : Tanah Air Beta
  2. Penulis : Sefryana Khairul
  3. Tebal halaman : 118
  4. Tahun terbitan : 2010

TANAH AIR BETA

Pada tahun 1999, provinsi ke-27 Indonesia yaitu Timor Timur memsahkan diri dan menjadi negara sendiri dengan nama Timor Leste. Sekitar 300.000 warga negara Indonesia harus rela meninggalkan Timor Leste dan menungsi ke wilayah Indonesia yaitu Kupang (Nusa Tenggara Timur). Sebagian mereka juga terpisah dengan sanak saudara yang memilih tetap menjadi warga Timor Leste. Walaupun begitu mereka tetap dapat bertemu dengan saudaranya dari Timor Leste di daerah perbatasan (Atambua) dengan perantara sukarelawan dari PBB. Di sebuah jembatan, tempat perbatasan Timor Leste dan Indonesia orang-orang yang mengungsi dapat bertemu keluarganya. Mereka saling berpelukan, saling menangis, penuh haru. Jembatan itu bernama Motain . Diantara para pengungsi itu ada seorang janda beranak 2 membawa anak keduanya ke Kupang yaitu seorang anak perempuan berusia 10 tahun yang bernama Merry, sedangkan anak pertamanya yaitu seorang laki-laki berusia 12 tahun yang bernama Mauro tetap di Timor Leste yang hidup dengan pamannya.

۞۞۞

            Sebuah jalan tampak penuh oleh ribuan orang yang akan mengungsi. Tampak juga tentara yang sedang berjaga jaga, memerhatikan orang orang itu berjalan dengan membawa tumpukan barang-barang di dalam gerobak, kendaraan, atau di panggul. Orang-orang itu membawa bingkai foto-foto keluarga, serta binatang peliharaan mereka. Mereka terlihat sangat lelah, takut, dan mulut mereka tidak mampu mengucapkan apa apa.Diantara pengungsi itu ada seorang janda beranak 2 yang bernama Tatiana, seorang ibu muda berambut ikal kemerahan ikut berjalan di antara para pengungsi sambil menggandeng putrinya Merry. Langkah mama Tatiana kemudian melambat dan berhenti saat melihat perbatasan di depannya. “Kita su sampe” katanya kepada Merry.

Di sebuah jembatan perbatasan Indonesia dengan Timor Leste, orang-orang yang mengungsi kembali bertemu sanak saudaranya. Jembatan itu bernama Motain. Jembatan itgu menjadi penghubung bagi sanak saudara yang terpaksa hidup terpisah karena harus mengungsi. Pasca jajak pendapat memang melahirkan duka yang mendalam bagi banyak keluarga.  Mama Tatiana ingin sekali bertemu dengan anak laki-lakinya yang bernama Mauro. Mama Tatiana dengan langkah agak terburu buru mendekati seorang relawan bernama Lukman. Mama Tatiana meminta tolong kepada Lukman untuk sampaikan kepada Mauro bahwa ia ingin sekali bertemu dengannya. Lukman berusaha menenangkan dengan senyumannya dan ia akan membantu mencari tahu kabarnya. Om Abu Bakar, seorang laki-laki yang dari tadi menunggu giliran bicara dengan relawan akhirnya mendapat kesempatan, “ Pak, bole sa titip pesan buat sa pung istri?”. Si relawan menyodorkan kertas kosong. Om Abu Bakar bingung karna ia tidak bisa tulis dan istrinya tidak bisa baca. Si relawan akhirnya mengeluarkan tape recorder “kalau begitu kita rekam saja”. Ia menatap relawan sekilas diam sebentar dan mulai berbicara “Renata, ini saya Abu Bakar, suamimu. Sungguh tida kusangka ini bisa terjadi. Baru 1 minggu kita menikah harus berpisah karena referendum, sekarang sa hidup sendirian dengan menjual bensin eceran di tengah pengungsian. Sa selalu ingat kamu, Renata. Dan di jembatan Motain ini saya Cuma bisa bernyanyi sedih…”. Kemudian ia menyanyikan lagu sedih penuh penghayatan membuat relawan bingung memutar-mutar posisi agar tetap terdengar dan jelas sampai ia tidak menyadari bahwa si relawan jadi terjatuh.

۞۞۞

Lima tahun berlalu…

Sejak sering bertemu di pengungsian, om Abu Bakar merasa senasip dengan Mama Tatiana. Mama Tatiana kehilangan suamnya dan anak laki-lakinya bernama Mauro, sedangkan Om Abu Bakar kehilangan istrinya, Renata. Sekolah darurat yang terbuat dari kayu beratapkan tumpukan jerami dan beralatkan papan tulis seadanya, sekolah itu yang menjadi tempat Mama Tatiana mengajar dengan peralatan seadanya, ia mengajar dengan sukarela. Mengajar tidak mendapatkan bayaran, tetapi membuat anak-anak kelak menjadi orang pintar adalah yang terpinting untuknya. Pada saat ia sedang mengajar, Carlo anak laki-laki berumur belasan tahun terlihat ribut, ia juga terkenal jahil dan sering menjahili Merry. Pada saat itu terlihat Om Abu Bakar berdiri di dekat pintu kelas dengan muka sedih. Ada kabar yang mesti ia sampaikan kepada Carlo. Ia memberi tahukan kepada Carlo bahwa mamanya sekarang sudah tidak ada. Sekarang Carlo hidup sendiri.

۞۞۞

Tetapi ada satu hal yang membuat pikiran Mama Tatiana terganggu. Ia sangat inin bertemu dengan anak laki-lakinya Mauro yang tinggal di Timor Leste bersama pamannya. Jembatan Motain ramai oleh orang-orang yang ingin bertemu sanak saudaranya. Mereka duduk, bercakap-cakap, atau tertidur karna perjalanan jauh. Keinginan mereka untuk bertemu sanak saudaranya sangat kuat sehingga sejauh apapun selama apapun asalkan mereka dapat bertemu sanak saudaranya, bisa kembali berkumpul, begitu pula yang di lakukan Mama Tatiana. Dengan beralaskan tikar di bawah pohon yang cukup teduh, Mama Tatiana dan Om Abu Bakar menunggu sambil membuka buku belajar tulis untuk Om Abu Bakar, ia senang kalau ada orang yang mempunyai semangat belajar. Betapa hancur hati Mama Tatiana, setelah menunggu lama, informasi yang di sampaikan oleh relawan kepadanya itu ternyata Mauro tidak mau bertemu dengannya. Sehingga Mama Tatiana sakit karna berita itu dan terpaksa tidak boleh terlalu capek. Mama Tatiana sudah berusaha merahasiakannya dari Merry karena Merry sangat sayang kepada kakaknya tetapi akhirnya Merry mengetahui juga apa yang di sembunyikan mamanya karena tanpa sengaja ia mendengar percakapan yang dilakukan Mama Tatiana dan Om Abu Bakar. Karena ia sangat sayang terhadap kakanya, Merry melakukan tindakan nekad yaitu ia pergi ke jembatan Motain dengan cara memecah celengannya dan hanya dengan berbekal sebotol air mineral dan sebatang coklat pemberian Cik Irene,  Cik Iren adalah istri dari pedagang China dan memiliki took berusia 40tahun, yaitu Koh Ipin. Merry diam-diam pergi ke perbatasan yang jaraknya ribuan kilometer itu seorang diri . Tidak lupa, sebagai oleh-oleh buat kakaknya, Merry membeli sebuah kaos basket dari Cik Iren dan Koh Ipin, ia membelinya dengan harga 5000 rupiah. Cik Iren dan Koh Ipin rela memberikan kaos tersebut dengan harga 5000 rupiah samgkig sayangny terhadap Merry. Setelah mengetahui Merry hilang tentu saja sangat khawatir, ia kebingungan dan berusaha mencarinya bersama Abu Bakar tetapi tidak juga ketemu.  Pada saat itu, Carlo sedang mengitari pasar mencari harmonika yang kemarin ia ceburkan ke dalam danau untuk di berikan kepada Merry, karna itu adalah harmonika Mauro. Pada saat Abu Bakar sedang mencari Merry ia bertemu Carlo di pasar, ia meminta Carlo uintuk pergi ke arah sungai,bukit-bukit untuk mencari Merry, ia sudah mencari Merry di sudut-sudut jalan tetapi tetap tidak ada. Om Abu Bakar menanyakan hal itu kepada Cik Iren dan Koh Ipin tentang hilangnya Merry, sebelum Merry pergi ia sempat berada di warung milik Cik Iren. Dan Cik Iren memberitahukan bahwa Merry pergi ke Motain sendirian. Untuk menghibur Mama Tatiana, Abu Bakar menyuruh Carlo pergi mencari Merry ke perbatasan. Ia merasa pernah membuat kesalahan dengannya sehingga Merry tidak mau berteman dengannya.

Mama Tatiana khawatir dengan kondisi Merry sekarang, ia tidak bias melepas Merry begitu saja walaupun ia sudah besar. Sementara itu Merry di dalam bus menghabiskan cokelat batang yang di berikan Cik Iren untuk bekalnya, bekalnya sudah habis. Beruntung minumnya masis tersisa. Perut Merry sudah kembali lapar. Ia tidak memiliki uang cukup ntuk membeli makanan, ia hanya bias membeli pisang. Uang Merry sudah tidak cukup untuk perjalanan. Walaupun perjalanan ke Motain masih sangat jauh, ia nekad meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki sampai akhirnya ia pingsn di tengah jalan karna kelelahan. Untunglah Carlo cepat dating dan menolong Merry, ia manghentikan truk yang sedang berjalan kencang. Ia berdiri di tengah jalan untuk memberhentikannya sambil melambai-lambai, hati ia cukup takut juga. Sang sopir truk memarahinya tetapi ia tidak peduli dan ia berusaha menjelaskan kepada sang sopir apa yang terjadi pada Merry. Carlo ikut membantu sang sopir menggotong Merry ke dalam truk dan segera di bawa ke rumah sakit terdekat. Dokter memberitahu kepada Carlo agar Merry jangan terlalu capek. Setelah diperbolehkan pulang, mereka langsung melanjutkan perjalanan ke Motain. Pada saat di perjalanan, Carlo tahu kalau Merry sedang kehausan. Ia segera mengambil botol dan mencari air. Ia terpaksa mengambil air pada ceret yang telah mendidih. Karna air terlalu panas, botol yang ia bawa menjadi penyok, pemilik air itu sedang di kamar mandi dan air itu baru saja matang. Pada saat Carlo sudah sampai di tempat ia meninggalkan Merry, di sana Merry sudah tak terlihat lagi. Carlo berhasil menemukan Merry, Merry pergi untuk mencari makan, Carlo dan Merry memakan buah dilak (buah manja) yang di cari oleh Merry.

Setelah memakan buah dilak, mereka melanjutkan perjalanan ke Motain untuk bertemu dengan Mauro. Mereka menaiki truk yang menuju ke Motain. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Merry dan Carlo sampai di perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

Saat yang di tunggu tiba, beberapa warga negara Timor Leste yang di undang oleh para sukarelawan datang ke perbatasan untuk di pertemukan dengan sanak saudaranya yang warga negara Indonesia. Tetapi timbul masalah besar, Merry dan kakanya sudah lama tidak bertemu sehingga Mauro pasti tidak lagi mengenali Merry, sedangkan Merry sendiri juga tidak bisa mengenali Mauro. Merry putus asa dan berniat pelang saja ke Kupang. Untungnya Carlo mendapat ide cemerlang, mereka menyanyikan lagu “Kasih Ibu”. Ide Carlo itu ternyata berhasil, karena tiba-tiba datang seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang juga menyanyikan lagu “Kasih Ibu” dan ternyata ia memang benar benar Mauro. Betapa bahagianya Merry dan Mauro karena bisa bertemu lagi apalagi pada saat itu datang Om Abu Baka. Pada awalnya Mauro masih marah pada ibunya tetapi setelah Merry menjelaskan bahwa Mama Tatiana terpaksa maninggalkan Mauro di Timor Leste karena keadaan di pengungsian masih sangat sulit, jika keadaan sudah baik Mama Tatiana akan menjemput Mauro. Sebagai tanda bahwa Mama Tatiana sayang pada Mauro, Merry menunjukan barang-barang Mauro yang masih di simpan Mama Tatiana. Mauro akhirnya bisa menemui ibunya. Carlo juga sangat bahagia kerena ia tidak lagi sebatang kara karena mendapat “keluarga baru” yaitu Mama Tatiana, Merry dan Mauro. Ratusan pengungsi lain juga ikut bahagia karna dapat bertemu dengan sanak saudaranya kembali. Cinta ibu memang tak terhingga sepanjang masa.

 

“THE END”

Posted on November 25, 2011, in Pelajaran and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: